Dalil Naqli Peristiwa Isra’ Mi’raj

Allah SWT berfirman dalam surat Al Isra’ (17) ayat 1:

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Ini adalah salah satu peristiwa besar yang dialami Nabi Muhammad SAW pada tahun ke-11 kenabian. Peristiwa ini terjadi beberapa waktu setelah tahun kesedihan (aamul huzni) yang ditandai dengan wafatnya istri beliau, Khadijah binti Khuwailid RA, dan paman beliau Abu Thalib. Para ulama’ berbeda pendapat mengenai waktu terjadinya Isra’ Mi’raj. Beberapa mengatakan peristiwa itu terjadi pada tanggal 27 Rajab. Namun banyak juga yang menyatakan bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi di bulan lainnya. Wallahu a’lam.

Detail peristiwa ini dapat ditemukan di sebuah hadits yang panjang, yakni hadits no. 234 Kitab Shahih Muslim:

Telah menenceritakan kepada kami Syaiban bin Farrukh, (dia berkata) telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, (dia berkata) telah menceritakan kepada kami Tsabit al Bunani dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku didatangi Buraq. Lalu aku menunggangnya sampai ke Baitul Maqdis. Aku mengikatnya pada pintu masjid yang biasa digunakan mengikat tunggangan oleh para nabi. Kemudian aku masuk ke masjid dan mengerjakan salat dua rakaat.

Setelah aku keluar, Jibril datang membawa bejana berisi arak dan bejana berisi susu. Aku memilih susu, Jibril berkata, ‘Engkau telah memilih fitrah.’

Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril minta dibukakan, ada yang bertanya, ‘Siapakah engkau?’ Dijawab ‘Jibril’. Ditanya lagi, ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Ditanya, ‘Apakah ia telah diutus?’ Jawab Jibril, ‘Ya, ia telah diutus’. Lalu dibukakan bagi kami. Aku bertemu dengan Adam. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapakah engkau? Jawab Jibril, ‘Jibril’. Ditanya lagi, ‘Siapakah yang bersamamu?’ Jawabnya, ‘Muhammad’. Ditanya, ‘Apakah ia telah diutus?’ Jawabnya, ‘Dia telah diutus’. Pintu pun dibuka untuk kami. Aku bertemu dengan Isa bin Maryam as. dan Yahya bin Zakaria as. Mereka berdua menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Aku dibawa naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya, ‘Siapa engkau?’ Dijawab, ‘Jibril’. Ditanya lagi, ‘Siapa bersamamu?’ ‘Muhammad saw.’, jawabnya. Ditanyakan, ‘Dia telah diutus?’ ‘Dia telah diutus’, jawab Jibril. Pintu dibuka untuk kami. Aku bertemu Yusuf as. Ternyata ia telah dikaruniai sebagian keindahan. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Aku dibawa naik ke langit keempat. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Ditanya lagi, ‘Siapa bersamamu?’ ‘Muhammad’, jawab Jibril. Ditanya, ‘Apakah ia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Dia telah diutus.’ Kami pun dibukakan. Ternyata di sana ada Nabi Idris as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah Taala berfirman ‘Kami mengangkatnya pada tempat (martabat) yang tinggi’.

Aku dibawa naik ke langit kelima. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya, ‘Siapa?’ Dijawab, ‘Jibril’. Ditanya lagi, ‘Siapa bersamamu?’ Dijawab, ‘Muhammad’. Ditanya, ‘Apakah ia telah diutus?’ Dijawab, ‘Dia telah diutus’. Kami dibukakan. Di sana aku bertemu Nabi Harun as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Aku dibawa naik ke langit keenam. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya, ‘Siapa ini?’ Jawabnya, ‘Jibril’. Ditanya lagi, ‘Siapa bersamamu?’ ‘Muhammad’, jawab Jibril. Ditanya, ‘Apakah ia telah diutus?’ Jawabnya, ‘Dia telah diutus’. Kami dibukakan. Di sana ada Nabi Musa as. Dia menyambut dan mendoakanku dengan kebaikan.

Jibril membawaku naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan. Lalu ada yang bertanya, ‘Siapa ini?’ Jawabnya, ‘Jibril’. Ditanya lagi, ‘Siapa bersamamu?’ Jawabnya, ‘Muhammad’. Ditanyakan, ‘Apakah ia telah diutus?’ Jawabnya, ‘Dia telah diutus’. Kami dibukakan. Ternyata di sana aku bertemu Nabi Ibrahim as. sedang menyandarkan punggungnya pada Baitul Makmur. Ternyata setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitul Makmur dan tidak kembali lagi ke sana.

Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratul Muntaha yang dedaunannya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika atas perintah Allah, Sidratul Muntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka suasana menjadi berubah, sehingga tak seorang pun di antara makhluk Allah mampu melukiskan keindahannya.

Lalu Allah memberikan wahyu kepadaku. Aku diwajibkan salat lima puluh kali dalam sehari semalam. Tatkala turun dan bertemu Nabi saw. Musa as., ia bertanya: Apa yang telah difardukan Tuhanmu kepada umatmu? Aku menjawab, ‘Salat lima puluh kali.’ Dia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan kuat melaksanakannya. Aku pernah mencobanya pada Bani Israil. Aku pun kembali kepada Tuhanku dan berkata, ‘Wahai Tuhanku, berilah keringanan atas umatku’. Lalu Allah mengurangi lima salat dariku. Aku kembali kepada Nabi Musa as. dan aku katakan, ‘Allah telah mengurangi lima waktu salat dariku’. Dia berkata, ‘Umatmu masih tidak sanggup melaksanakan itu. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi’. Tak henti-hentinya aku bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa as. sampai Allah berfirman, ‘Hai Muhammad. Sesungguhnya kefarduannya adalah lima waktu salat sehari semalam. Setiap salat mempunyai nilai sepuluh. Dengan demikian, lima salat sama dengan lima puluh salat. Dan barang siapa yang berniat untuk kebaikan, tetapi tidak melaksanakannya, maka dicatat satu kebaikan baginya. Jika ia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barang siapa yang berniat jahat, tetapi tidak melaksanakannya, maka tidak sesuatu pun dicatat. Kalau ia jadi mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan’. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa as., lalu aku beritahukan padanya. Dia masih saja berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan’. Aku menyahut, ‘Aku telah bolak-balik kepada Tuhan, hingga aku merasa malu kepada-Nya’.

(Shahih Muslim no.234)

 

Leave a Reply